AWAS ADA BOM !

Ledakan bom kini terdengar dimana-mana, maklumlah lebaran ya kan. Bom yang gue maksud disini itu bukan bom yang dibuat ngeledakin Bali atau bom yang ngeledakin Hotel J.W. Marriott itu, tapi bom yang ukurannya sama kayak ukuran jari kelingking, kecil banget. Udah tahu kan namanya apa, yapp betul sebutannya itu Petasan, bahasa inggrisnya Mercon. Ohh itu bahasa jawanya ya, harap maklum ya namanya juga komedi. Bahasa inggrisnya kalau nggak salah itu Petard, coba cek di kamus kali aja gue salah.
Bahan pembuat petasan ini simpel, tidak pake ribet. Tapi jangan sembarangan pakenya ya ini berbahaya soalnya. Siapkan bubuk mesiu, gulungan kertas, lem, sumbu, konsentrasi pikiran sama keterampilan tangan, itu bahannya. Lalu blender jadi satu hingga lembut tuangkan ke gelas dan siap dihidangkan selagi hangat. Ohh maaf tadi itu cara pembuatan Jus Mercon bukan cara buat Petasan yang benar. Tadi Jus Merconnya cuma becanda, jangan ditiru jangan diambil hati juga ya.
Ayoo kita berfantasi....
Sifat Mercon ini memang membuat kita terkejut, selalu mendadak meledak tidak ada peringatan sebelumnya. Kita hanya diberi waktu sepanjang sumbu Mercon sendiri buat bersembunyi secepat mungkin. Jika tidak Mercon akan membuat bekas luka yang menyayat fisik, mental dan spiritual kalian. Luka fisik yang dibuat Mercon kepada kalian itu berupa luka pedih, perih dan bercucurkan darah. Membuat kulit kita membuka auratnya sendiri sehingga terlihat daging, darah, dan putih tulangmu. Butuh waktu panjang untuk memperbaiki susunan sel-sel yang rusak akibat ledakan tak pandang bulu dari Mercon. Saat proses perbaikan sel, hanya gulungan perban yang mampu menutupi aurat kulit yang terbuka. Obat cair berwarna merah yang bisa membantu mempercepat penyembuhan, efek sampingnya kalian akan meronta menahan pedih perih di setiap aliran obat merah melewati sela-sela kulit yang terbuka. Komplikasinya bisa menimbulkan luka mental, luka yang lebih sulit terobati. Luka yang membuat orang berubah 180°, dari yang berani menantang maut berubah menjadi lemah melihat satu ukuran kecil Mercon yang belum hidup sekalipun. Luka selanjutnya luka spiritual, luka ini berdampak besar bagi kelangsungan hidup yang akan datang, luka yang bisa saja malah menumpuk dosa. Ucapan yang tidak terkontrol membawa luka spiritual, dan dosa akan menumpuk di pundak kiri. Satu kata yang spontan terucap jika mendengar suara ledakan Mercon yang keras dan mengejutkan telinga. Tidak ada obat untuknya, selain berdoa dan meminta maaf.
Nahh sudah, tegangnya cukup.
Ayoo kita santai sekarang....
Mercon ukuran umumnya hanya sekitar jari kelingking anak kecil. Bayangkan jika ukuran diubah menjadi seukuran jari kelingking seekor nyamuk, repotkan jadinya. Apalagi ukurannya diubah lagi jadi seukuran jari kelingking seekor kuda, para konsumen nanti malah tambah bingung soalnya kuda tidak punya jari kelingking gimana mau buat Mercon hayoo. Jeda waktu meledaknya juga singkat, waktunya hanya cukup buat kita ambil nafas aja, intinya singkat banget. Beberapa konsumen mensiasatinya dengan cara yang cukup membuat orang kagum, yaitu dengan cara mengganti sumbu Merconnya dengan sumbu kompor. Hemat, efisien, dan terstruktur. Jadi waktunya menjadi lama untuk meledak, kita juga bisa ajak Raisa ngopi sebentar sambil menunggu Mercon meledak. Para konsumen Mercon juga memanfaatkan suara Mercon yang keras dan bikin orang kaget sebagai alarm bangun tidur. Caranya ganti sumbu jadi sumbu kompor,  lalu kalian segera tidur, Mercon akan membangunkan kalian dengan cepat dan tepat waktu tergantung panjang sumbu kompor yang dibuat. Coba bayangkan bagaimana Mercon bertindak sebagai alarm tidur sampai konsumen terbangun sambil elus-elus dada. Bagi penderita penyakit jantung sangat tidak dianjurkan untuk tidak menhidupkan Mercon, karena sifat Mercon yang penuh kejutan bisa saja penderita penyakit jantung meninggal mendadak, jangan sampailah. Tapi para ilmuwan menemukan Mercon yang tidak menimbulkan suara yang mengagetkan tapi malah memainkan suatu lagu saat meledak. Para ilmuwan menamainya dengan "Mercon Player" terinspirasi dati Music Player. Jika sudah meledak, Mercon ini memulai lagunya. Lagu yang ada bermacam-macam tergantung selera para konsumen. Salah satu lagu contohnya campursari, lagu ini cocok bagi penderita penyakkt jantung, dan kaum rambut putih.
Selesai....
Karangan di atas cuma imajinasi gue, semuanya hanya imajinasi yang berwujud tulisan berparagraf. Imajinasi inilah membuat kita jadi kreatif. Imajinasi membuat kita mengetahui gambaran masa depanmu. So, don't stop to imagining something that you interest on it.....


By @tikoauo via Twitter

Sebuah Batu Bata Jelek

Cerita pertama ini dari Ajahn Brahm, beliau penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1-3. Gue penggemar buku dari beliau, semuanya ceritanya sangat bermanfaat bagi gue dan kalian mungkin akan merasakan manfaatnya juga. Bukunya pada dipinjem sama temen gue semua, belum balik sampai sekarang. Cerita dari Ajahn Brahm ini akan gue tulis lagi dengan bahasa gue sendiri dan alurnya berbeda tapi intinya atau maknanya sama aja, jadi jangan kaget kalau ada  yang beda dari yang aslinya. Okehh langsung ke cerita....

Awalnya, Ajahn Brahm adalah biksu muda mendapat tugas untuk membuat tembok bata dari sang guru. Dia guru yang sangat tenang, apapun tugas yang diberikan kepada semua muridnya memiliki makna di dalamnya. Campuran semen, pasir dan air mulai diaduk, dia mengaduk sambil melihat kiri kanan akhirnya tertuju ke tumpukan bata dan disampingnya ada gurunya yang duduk bersila kelihatannya dia sedang bersemedi sepeeti halnya biksu lain yang bersemedi.
Bata pertama disusunnya dengan sangat hati-hati, sukses dengan bata pertamannya dia melanjutkannya ke bata kedua yang disusun disampingnya. Dia menyusunnya sambil menoleh ke gurunya yang masih tenang bersemedi, tak merasa terganggu apapun. Dia tersenyum ke gurunya tapi guru itu tidak mengetahuinya. Dia melanjutkan pekerjaannya.

Tumpukan bata baris pertama dan kedua selesai. Dia mengambil tumpukan bata baru dan mulai menyusunnya lagi di baris ketiga, saat mau mengambil bata yang ingin disusun dia melihat sekilas bata yang bentuknya aneh berbeda dengan bata normal lain, ibaratnya bata ini gila lainnya masih waras. Brahm mengambilnya melihatnya dengan seksama, dia berpendapat kalau bata ini sudah tak layak jadi bagian dari tembok yang dia buat untuk gurunya. Akan jadi apa jika bata gila ini disusun bersama  bata waras lain, malah gilanya nular ke bata waras lainnya malah tambah jelek tembok yang dia buat nanti, itu yang dipikirkan Ajahn Brahm muda. Ajahn Brahm muda berdiri membawa bata yang gila ini berjalan menuju semak-semak hendak membuangnya. Selagi Brahm berjalan sang guru ababil bangkit dari semedinya mendekati Brahm.

 "Jangan membuangnya !", suara khas laki-laki berumur 60-an tahun "Kau hanya membuang apa yang sudah kau punya dengan sia-sia, jangan !"
"Tapi, bata ini tidak layak buat tembok yang engkau minta untuk ku buatkan, malah tambah jelek jika dilihat" suara jernih dari pria berumur 21 tahun
"Tetap susun batanya, itu tugasmu kan !"
Tidak berkata apa-apa Brahm kembali duduk di kursi kecil dari kayunya untuk menyusun kembali bata tidak waras ini, dia diam sejenak memandangi bata jelek dan memikirkan apa yang dipikirkan oleh gurunya. Gurunya itu bagai gudang teka-teki yang harus diisi. Dia sudah membayangkan bagaimana jadinya, jelek, menurutnya itu sudah pasti. Tapi pemikiran seorang guru memang sulit untuk ditebak.

Dan akhirnya susunan bata gila tersusun tapi masih kelihatan jelek menurutnya, dia hanya fokus hanya di batu jelek itu saja, tidak keseluruhan susunan bata yang rapi. Baris per baris bata terselesaikan rapi dan hampir rampung, sesekali dia memandang gurunya yang kembali semedi. Dia takut apa yang dikatakan gurunya ternyata berbalik dengan kenyataan yang sebenarnya kalau temboknya kacau gara-gara satu bata yang abnormal. Akhirnya temboknya rampung, dia masih saja fokus ke batu jelek itu.

"Ohh, sudah jadi ya, indah sekali !" gurunya memuji dari jauh dibarengi senyum manis.
"Guru mungkin salah menilainya, sudah terlihat...." belum selesai bicara gurunya menyuruh untuk Brahm mendekat ke gurunya.
"Kesini mendekat kepadaku, aku mau jelaskan."
pandangan seketika berbeda saat Brahm mendekat di samping gurunya kira-kira jarak 8 meter dari tembok, bata jelek itu kini hampir tak terlihat.
"Batu jelek itu ibarat sebuah keburukan seseorang dan bata yang lainnya adalah kebaikan seseorang, kamu tidak bisa menilai seseorang hanya dari keburukannya. Keburukan seseorang akan tertutupi dengan kebaikannya sendiri. Kamu hanya fokus dalam menilai bata yang jelek itu saja, tidak menghiraukan bata-bata yang baik lainnya. Kamu baru tersadar saat kamu mundur beberapa langkah dan melihat keseluruhan tembok yang kau buat, bata yang kau anggap buruk kini tertutupi dengan bata yang baik. Penilaianmu berdasarkan fisik tidak dari hati kecilmu.”


TaplakSuci
Follow me @tikoauo

Diberdayakan oleh Blogger.

Gue adalah....

Foto saya
Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia
Manusia seperempatnya Adonan Kue

Followers