Kue Ulang Tahun Part 1

Dulu 8 November 2012. Hari itu tidak biasa, rasanya ada sensasi gembira tersendiri beda sama hari lain bagiku. Tahu kenapa? 8 November itu hari lahirku di dunia. Terutama tahun lalu tahun 2012 lalu ada hal yang tidak biasa, hal yang membuat air mataku hampir jatuh ke tanah, terharu. Bisa saja di hari itu 8 November jadi hari paling berkesan  daripada tanggal 8 November yang lain, tapi belum termasuk tanggal 8 November yang akan datang, mungkin saja yang  akan datang itu bakal jadi yang lebih berkesan lagi. Meskipun itu, hari tersebut sudah meninggalkan memori manis yang bisa membuat saya tersenyum sendiri jika teringat meskipun ingatan itu cuma sekilas.

Sebelum hari-H, saya sudah merasakan surprise nya. Surprise pertama datang dari orang tua ku sendiri, surprisenya adalah gadget terbaru di eranya. Bentuknya seperti papan talenan, kotak, lebar dan memegangnya harus pakai dua tangan, ribet, tapi hadiah itu sudah membuat saya gembira minta ampun, saya juga sering senyum sendiri jika memainkan gadget tersebut padahal sama sekali tidak ada hal lucu. Itulah senyuman kegembiraan.

Menjelang hari-H, beberapa jam menuju pukul 00.00 WIB tanggal 8 November saya justru tidak menyambutnya meriah seperti pesta semalam suntuk di kamar ataupun begadang di kamar sambil terus pegang hape antisipasi jika ada yang memberi selamat kepada saya kalau saya sudah bertambah tua, atau hidupkan komputer disamping kamar sambil berkicau di twitter masalah yang ujung-ujungnya menuju ke ulang tahun saya, semua itu tidak saya lakukan. Saya cuma melentangkan badan di kasur, melipat bantal jadi dua ditaruh di bawah kepala, lalu melipat kedua tangan ke atas perut bagian atas sambil memandang ke atas melihat plafon berwarna putih pucat dan berhias sarang laba-laba, saat itu saya berbicara pada diri saya sendiri tentang bertambah dewasanya saya. Sekejap setelah itu saya tertidur.

Dan sekarang hari-H nya, waktu itu amat singkat tak terasa waktu pulang sekolah sudah tiba. Rasanya biasa saja sama seperti hari-hari di dalam kalender walaupun hari ini spesial bagi saya. Sempat terpikir saat duduk di bangku sekolah waktu itu kalau saat pulang sekolah nanti saya akan diguyur, diguyur dengan apa? Pastinya diguyur dengan campuran tepung, air dan telur ayam. Sempat juga terpikir kalau nanti saya akan jadi malu dilihat siswa lain melihat saya berlumuran adonan tepung bercampur telur dan berbau amis. Tapi, semua yang saya bayangkan panjang lebar tadi kenyataannya tidak dilakukan oleh mereka. Saya pulang dengan keadaan bersih sampai rumah, sepanjang perjalanan pulang saya juga bertanya pada diri saya, kok bisa? Kan budaya ulang tahun biasanya dilempari dengan telur, ditaburi tepung dan disirami air? Tapi kok sekarang tidak? Tapi saya tidak mau ambil pusing oleh itu. Saya cuek.

Sore setelah itu saya lalui bersama dengan bantal dan guling, istirahat. Benar sekali hari itu sangatlah biasa menurut saya, tapi bisa saya rasakan bahwa hari itu adalah hari spesial sekali dalam setahun.

Malam itu ada yang mengetuk pintu, mencari saya. Dan ternyata salah satu teman akrab saya, Afief. Dia pakaiannya cukup rapi padahal rumah kami tidak terlalu jauh, dia tidak membawa apa-apa hanya membawa sebuah helm warna putih di tangan kirinya dan tas kecil warna hitam. Saya persilahkan duduk. Dia meletakkan helmnya dan duduk, sebelumnya dia bertanya kepada saya mengenai tugas kesenian saya yang belum saya kumpulkan. Memang saya kadang-kadang mengumpulkan tugas tidak tepat waktu, tapi kalau sudah mengerjakannya saya kerjakan tugas itu dengan sepenuh hati. Saya ambilkan kanvas saya yang sudah ada coretan cat warna-warni membentuk lukisan setengah jadi kepada dia. Dia membuka gulukan kanvas itu dan cuma melihatnya saja, setelah itu dia sibuk dengan hape di tangannya membalas sms entah kepada siapa. Perasaan saya waktu itu sama sekali tidak ada hal aneh semuanya wajar menurut saya, tak ada pikiran sama sekali mengenai ulang tahun saya, saya pikir ulang tahun saya itu sudah lewat walaupun hari itu masih hari ulang tahun saya. Tak lama saat kita ngobrol masalah tugas kesenian, terdengar ada teriakan kecil memanggil nama Afief di sebelah rumah tetangga saya. Entah saya salah dengar ataupun apa, tapi telinga saya cukup tajam untuk mendengar suara sekecil apapun. Saya bertanya kepada Afief apakah dia mendengar suara tadi, dia tidak tahu, berarti saya pikir waktu itu kalau telinga saya mengalami kerusakan cukup parah. Lalu kami lupakan suara itu, kami berlagak cuek. Dia tiba-tiba berdiri membawa hapenya sambil menekan cepat tombol hape itu terlihat dia sedang membalas sms. Dia mengajak saya keluar pagar rumah saya dengan alasan ingin ngobrol di luar dengan saya. Tak ada pikiran apapun di otak saya, kecuali pikiran kalau dia ingin pulang segera, tapi ternyata tidak seringkas pemikiran saya waktu itu. Saya berjalan kecil menuju luar pagar dengan memegang hape di tangan kiri saya, siaga. Langkah pertama melewati batas pagar rumah, tiba-tiba ada teriakan keras mengagetkan dari arah barat, sontak saya paksakan arah pandangan saya ke arah barat. Surprise ! ( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Gue adalah....

Foto saya
Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia
Manusia seperempatnya Adonan Kue

Followers